KAMPAR, PBC. Sebuah temuan mencengangkan mencuat di perbatasan Kebun Tandun: puluhan tandan buah sawit milik BUMN ditemukan tersembunyi di lahan warga, memicu dugaan kuat adanya praktik pencurian, pungutan liar, hingga upaya meredam fakta yang diduga melibatkan oknum Koordinator Pengamanan (Korkam).
Kejadian bermula tepat pada Sabtu, 08 Agustus 2026 pukul 15.55 WIB, ketika seorang warga menghubungi awak media melalui telepon dan menyampaikan informasi mendesak terkait temuan Tandan Buah Segar (TBS) yang disembunyikan secara curang di wilayah Kebun Tandun Distrik Barat, PTPN IV Regional III BUMN. Laporan ini menjadi bukti nyata bahwa pengawasan di lapangan menghadapi tantangan serius, padahal warga telah berulang kali menyampaikan keluhan namun dinilai belum mendapatkan penanganan tuntas.
Kronologi & Fakta di Lapangan:
Sesaat setelah menerima laporan, awak media langsung menuju lokasi di perbatasan Blok E4, Rayon B. Di sana terlihat jelas puluhan tandan buah segar tersusun rapi dan sengaja ditutup rapat menggunakan pelepah kering seolah hendak disembunyikan dari pantauan.
Sebelum tiba di lokasi penemuan utama, di jalan produksi area kebun, awak media berpapasan dengan sejumlah pengendara sepeda motor yang mengangkut brondolan dengan cara mencurigakan. Saat akan dimintai keterangan, Korkam berinisial PN yang diduga menjadi oknum utama di balik berbagai penyimpangan tersebut tiba di lokasi dan justru membiarkan pengangkut brondolan tersebut pergi begitu saja tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Di lokasi penemuan, warga menyampaikan keterangan dengan bukti dan ingatan yang jelas: “Awalnya saya temukan dan laporkan ke Pak Marno Security, baru kemudian dia datang ke sini. Dibekap dia anggotanya itu makanya dia jadi keras dan ngotot begitu. Karyawan satu itu anggotanya,” ujar salah satu warga yang meminta namanya disembunyikan, menunjuk ke arah Korkam PN.
“Kalau kalian gak cepat datang mungkin buah ini sebentar lagi dijual. Coba perhatikan Abang itu sibuk menelpon, jangan-jangan anggota yang dibekap dia yang ditelponi itu,” beber warga lainnya dengan nada cemas melihat aktivitas Korkam yang diduga sebagai pelaku utama penyimpangan di lokasi.
“Praktik ’86’ itu sering terjadi. Belum lama ini pernah ditangkap buah sebanyak enam tandan, namun di lapangan langsung dilaporkan seolah tidak ada apa-apa atau di-’86’-kan oleh dia. Kejadian itu diketahui oleh Mandur satu saat itu, namun beliau tidak ikut terlibat, hanya mengetahui saja,” terangnya dengan tegas, menegaskan bahwa yang melakukan praktik tersebut adalah oknum Korkam PN.
“Saya sudah lapor ke Sipadang, sudah lapor ke Asisten namun tak ada tanggapan. Pihak keamanan sering memungut uang berkisar antara 1 hingga 3 juta rupiah dari pelaku yang tertangkap seolah jalan keluar sah,” tambahnya lagi, menunjuk praktik yang diduga dilakukan secara sistematis oleh oknum tersebut.
Hal ini diperkuat pernyataan mantan petugas keamanan internal yang dikonfirmasi awak media pukul 18.22 WIB melalui pesan WhatsApp: “Iya memang begitu polanya, itu sering membekap pencuri sawit. Contohnya warga Kampung Terantam ditangkap saat mengangkut brondolan bersama motornya yang berwarna merah putih dari dalam kebun Tandun, kemudian diduga harus membayar uang sebesar Rp1.500.000 agar dilepaskan. Saya pun punya rekaman percakapannya soal kejadian itu,” katanya meyakinkan, menegaskan bahwa yang dimaksud adalah oknum Korkam
Mantan petugas tersebut juga membeberkan pola permainan yang mencurigakan: “Baru pola mainnya itu, kalau ada kasus besar macam yang ditemukan ini, beberapa pihak dari kantor besar dihadapkan kepadanya satu per satu untuk memberikan penjelasan. Seolah-olah dia pandai mencari perhatian pimpinan begitu polanya, padahal fakta di lapangan memang seperti itulah yang terjadi,” ujarnya mengakhiri penjelasannya, menunjuk perilaku oknum yang diduga terlibat.
Warga menduga kuat temuan 60 tandan kali ini dipanen oleh karyawan KNG Afdeling I berinisial R beserta rekannya, yang diduga dilakukan atas perintah langsung dari Korkam yang diduga sebagai dalang utama. Warga meminta R dipanggil ke kantor besar untuk dimintai keterangan guna mengungkap peran oknum tersebut secara utuh.
Pernyataan Korkam Berinisial P: **”86 dari mana? disini do cara ininya, maksudnya 86 tangkapan kita, haa tidak kita., kalau informasi silahkan tapi perlu kita buktikan jangan nanti diinformasikan tapa sama inikan berartikan ado domba” katanya seperti terlihat panik saat ditanya terkait dugaan keterlibatannya.
“86 itu tidak benar sama sekali” posisi untuk saat ini aman. kalo eh,, kalo itu tidak itu ada sama sekali., kalo ada mungkin gak dipake kita. saya toh eh,, pencuria mungkin meningkat bukan menurun,” ujarnya membantah tudingan yang mengarah kepadanya.
Terlihat jelas kecemasan dan kepanikan dari sikap Korkam saat memohon agar temuan buah milik perusahaan yang diduga ditumpuk para pelaku di lahan warga serta dugaan keterlibatannya tidak dipublikasikan. Ia justru mengarahkan agar permasalahan ini dibawa dan dibicarakan di kantor Asisten Umum (Asum).
“Iya nanti kita ke kantor Pak Asum saja, ngobrol sama Pak Asum lebih enak,” pintanya berulang kali seolah meyakini Asum memiliki wewenang atau regulasi khusus terkait tugas di bidang keamanan untuk menyelesaikan masalah ini.
“Belum bisa kita pastikan. Praduga tak bersalah itu ada, namun kita belum bisa menuduh orang sembarangan,” terangnya saat ditanya dugaan perannya.
Lanjutnya “Nanti kan bisa dibuktikan siapa yang mengatakan hal demikian. Untuk soal ini, nanti kita bicarakan dulu sama Pak Asum ya Pak,” katanya menutup pembicaraan.
Saat kejadian berlangsung, terlihat upaya penawaran uang tunai dengan alasan “uang kopi” yang ditolak tegas awak media. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya upaya meredam informasi agar tidak sampai ke pimpinan perusahaan dan publik, yang diduga dilakukan oleh oknum yang bersangkutan.
Pesan Penting untuk Pimpinan PTPN IV & Masyarakat: Berita ini disusun secara objektif dengan menyajikan fakta di lapangan serta pernyataan kedua belah pihak secara utuh. Temuan ini menjadi masukan penting bagi Pimpinan PTPN IV Regional III agar segera melakukan pengecekan independen, mengusut tuntas dugaan penyimpangan yang diduga melibatkan oknum tersebut, dan memulihkan sistem pengawasan di lapangan.
Kepada publik, kami sampaikan bahwa seluruh informasi ini didasarkan pada laporan warga dan pernyataan di lokasi. Redaksi tetap menjunjung tinggi praduga tak bersalah dan terbuka sepenuhnya bagi klarifikasi resmi dari pihak manajemen maupun oknum yang diduga terlibat guna melengkapi kebenaran.
Kami berharap perusahaan dapat segera mengambil langkah tegas demi menjaga aset negara, kesejahteraan karyawan jujur, dan kepercayaan masyarakat terhadap BUMN perkebunan.
Tim.
